Berawal pada tahun 1990, seorang remaja dari Pulau Timor di provinsi termuda Indonesia saat itu, Timor Timur, bernama Defrancisco Dasilva Tavares atau lebih dikenal sebagai Frans Tavares, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah periode 2025–2030.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia memiliki tekad besar untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di Pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Keinginannya mendapat dukungan kuat dari orang tuanya, karena pada masa itu masyarakat Timor Timur sangat ingin memperoleh kesempatan pendidikan yang setara dengan masyarakat Indonesia di wilayah lain.
Dengan tekad kuat, bersama dua saudaranya (Nelson dan Rico) serta seorang teman sekampung yang dipanggil Mas Nanang, mereka berempat berangkat menuju Pulau Jawa melalui rute Atambua – Kupang – Bali, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Yogyakarta.
Saat itu mereka belum mengetahui secara pasti ke mana harus menuju setelah sampai di Yogyakarta. Salah satu dari mereka yang merupakan putra Jawa Timur dan fasih berbahasa Jawa memberanikan diri bertanya kepada seseorang yang mereka temui secara tidak sengaja di Bali. Orang tersebut kemudian mereka panggil “Lek”. Berkat kebaikan hatinya, keempat pemuda dari Timor tersebut direkomendasikan dan ditampung oleh kerabatnya di Yogyakarta. Keluarga tersebut kemudian menjadi orang tua angkat mereka selama bersekolah di sana.
Frans menyelesaikan pendidikan SMA di SMA 17 Yogyakarta pada periode 1988–1990.
Setelah lulus SMA, Frans melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menjadi salah satu pilihannya, karena sang kakak telah lebih dahulu kuliah di sana. Saat pendaftaran mahasiswa baru, Frans memilih Fakultas Pertanian jurusan Budidaya Tanaman. Pilihan jurusan tersebut terjadi secara sederhana karena saat mendaftar ia datang sendiri tanpa pendamping.
Hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru menyatakan Frans diterima sesuai pilihannya, dengan syarat mengikuti program remediasi. Mata kuliah remediasi tersebut diasuh oleh Pak Jimi Hendarto, seorang dosen yang menurut Frans sangat kompeten dan mampu menyampaikan ilmu dengan sangat baik kepada para mahasiswa.
Bagi Frans, kampus UKSW memiliki arti yang sangat penting. Ia merasakan proses belajar dengan standar kualitas yang baik serta dosen-dosen yang sangat kompeten. Kehidupan kampus yang mencerminkan miniatur Indonesia membuat mahasiswa dapat belajar memahami keberagaman suku, budaya, dan perbedaan pandangan.
Kadang-kadang memang terjadi gesekan antar mahasiswa, namun jika dimaknai secara positif, hal tersebut justru membantu membentuk pribadi mahasiswa yang kuat dan tangguh.
Secara fisik, kampus UKSW juga dikenal sebagai kampus yang indah di tengah kota Salatiga yang sejuk. Di kampus tersebut pula Frans bertemu dengan seorang mahasiswi dari Fakultas Ekonomi asal Semarang yang kemudian menjadi istrinya.
Setelah lulus dari Fakultas Pertanian pada tahun 1997, Frans mulai memasuki dunia kerja. Ia sempat kembali ke Yogyakarta dan menjalani beberapa pekerjaan seperti sales produk, sales asuransi, serta bekerja di sebuah LSM. Namun pekerjaan tersebut belum memberikan hasil sesuai harapannya.
Pada tahun 1998, ia memutuskan kembali ke Timor Timur. Saat itu terdapat pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kota Dili. Frans mengikuti seleksi tersebut dan berhasil diterima di Bappeda Kabupaten Maliana sebagai kepala seksi.
Namun belum lama mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara, pada tahun 1999 di Timor Timur diadakan referendum oleh PBB. Situasi saat itu sangat rumit karena istrinya sedang hamil tua menjelang kelahiran anak pertama.
Mereka memutuskan mengungsi ke Atambua. Karena fasilitas rumah sakit bersalin saat itu belum memadai, mereka melanjutkan perjalanan ke Kupang. Namun karena kondisi darurat pasca referendum, perjalanan kemudian diteruskan ke Semarang, kota asal sang istri, hingga akhirnya putri pertama mereka lahir di sana.
Setelah proses mutasi kepegawaian dari Timor Timur (yang kemudian menjadi Timor Leste) selesai, Frans memulai kembali karier birokrasi pemerintahan di Kota Semarang. Ia kemudian ditempatkan di berbagai Organisasi Perangkat Daerah dengan bidang kerja yang beragam.
Frans dikenal sebagai pribadi yang konsisten pada nilai yang diyakininya benar. Sikap tersebut seringkali menghadirkan tantangan ketika ia harus menyampaikan pendapat yang berbeda dalam proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, lebih baik berdiri sendiri daripada harus melawan hati nurani. Namun ia selalu menjaga kerendahan hati serta cara berkomunikasi yang baik agar perbedaan pendapat tetap dapat diterima oleh orang lain.
Ia juga menekankan makna dari filosofi Creative Minority, bahwa seorang intelektual harus mampu menunjukkan perbedaan secara konstruktif di tengah masyarakat. Kepintaran akademik di kampus harus diimbangi dengan kemampuan penerapan di lapangan agar ilmu tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam berbagai diskusi dengan alumni UKSW, Frans menyampaikan bahwa alumni UKSW merupakan kumpulan orang-orang hebat yang memiliki potensi besar untuk membuat kegiatan nyata bagi masyarakat.
Ia menilai bahwa berbagai persoalan di masyarakat, khususnya di Jawa Tengah, membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi. Oleh karena itu perjuangan tidak seharusnya dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan melalui sinergi dan kolaborasi seperti konsep Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) yang pernah diajarkan di kampus UKSW.
Frans percaya bahwa nilai yang lahir dari sebuah pergumulan harus dipegang dengan teguh dan disampaikan secara jujur ketika mengambil kebijakan. Memang tidak mudah melakukan hal tersebut, terutama dalam lingkungan birokrasi pemerintahan.
Namun ia meyakini bahwa semakin banyak kesulitan yang dihadapi, semakin besar pula rencana baik yang Tuhan persiapkan. Hingga kini ia tetap memegang prinsip untuk menjalankan tugas dengan penuh semangat dan mencintai pekerjaannya dengan sikap enjoy, karena pada dasarnya tantangan adalah rangsangan (challenge is arousing).
CM – Ikasatyaku